Selasa, 06 September 2011

Saatnya Bangun dari Mimpi, Timnas!

Barusan Indonesia kalah dari Bahrain dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2014 dengan skor 0-2. Laga kandang yang ditunggu-tunggu dengan sejuta harapan ini ternyata jauh panggang dari api. Segala optimisme supporter yang dipupuk oleh euphoria media terhadap timnas ternyata harus kembali dihantam kenyataan bahwa kita belum terbang setinggi itu.

Data statistik menempatkan kita layak diunggulkan. Rekor pertemuan kedua tim memihak kita. Fakta bahwa kita tidak pernah kalah dalam 8 (delapan) pertandingan kandang terakhir, hingga mandulnya lini depan Bahrain semakin menambah kepercayaan diri kita bahwa malam ini kita akan menang dan pergi ke Brasil 2014.

Mimpi itu terangkai secara “tidak sengaja” saat kita mengalahkan Turkmenistan (yang levelnya memang di bawah kita). Setelah carut-marut PSSI, tiba-tiba dimulai dengan hasil (yang sebenarnya tidak begitu) membanggakan, kita lolos ke putaran ke-3 kualifikasi Piala Dunia 2014. Dimana kali pertama kita melangkah sejauh ini.

Hasil drawing pun terhitung mudah, kita se-grup dengan Iran, Bahrain, dan Qatar. Selain Iran, Bahrain dan Qatar merupakan lawan yang bisa kita kalahkan. Oleh karena itu optimisme kembali membuncah, bahwa kita bisa lolos dari grup ini.

Uji coba pun dilaksanakan untuk menjaga performa timnas. Setelah bermain imbang dengan juniornya, timnas secara mengesankan mengalahkan Palestina dengan skor 4-1. Semangat supporter semakin berkobar. Saat uji coba tandang ke Jordania pun juga hanya kalah 0-1. Berharap perbaikan pada kondisi puncak, melawan Iran.

Namun seperti tidak belajar dari pengalaman, kita kalah 0-3 dari Iran dengan semua gol terjadi di babak kedua. Akan tetapi kekalahan ini tidak begitu merisaukan karena kita memaklumi bahwa kita memang satu level di bawah Iran. Nah, lawan Bahrain adalah saatnya kita meraih kemenangan!

Dan hasilnya telah kita ketahui bersama. Bermain di GBK yang katanya angker bagi tim “sekelas” Bahrain, nyatanya kita tetap saja minim peluang dan terus tertekan. Permainan mudah sekali dibaca lawan. Bola dimainkan di tengah sebentar lalu terobosan ke sayap. Strategi lainnya, bola diberikan pada Gonzales untuk ditahan sebelum diberikan ke pemain yang membuka ruang. Sudah itu saja. Kebobolan kita? Lagi-lagi kesalahan kita adalah kelengahan karena kurangnya konsentrasi dan koordinasi.



Oke, kita kalah, lalu apa? Mencari kambing hitam? Siapa yang salah? Salah Wim? Salah SBY yang menonton? Salah Djohar yang memecat Riedl? Salah Markus? Salah supporter yang menyalakan petasan? Dan kita tidak kemana-mana.

Mari kita melihat lebih bijak. Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari kekalahan ini? Ya, kekalahan ini menyadarkan kita dari euphoria mimpi melaju ke putaran final Piala Dunia 2014. Menampar kita, bahwa kita belum sekuat itu.

Timnas adalah muara dari kompetisi dan pembinaan yang baik. Kompetisi professional yang sehat dan kompetitif akan melahirkan banyak bakat. Pembinaan yang berjenjang dan terstruktur baik dapat memonitor bakat-bakat muda.

Timnas yang “cuma” menang melawan Turkmenistan dan Palestina kemarin bukanlah representasi dari kompetisi kita. Timnas kita ini semacam klub yang baru dibentuk. Beruntung kompetisi kita belum aktif, jadi “klub timnas” ini bisa leluasa melakukan pemusatan latihan. Kalaupun malam ini menang, hasil yang kita dapat bukanlah hasil yang ideal. Karena (lagi-lagi) ini adalah hasil instan.

Kenapa selama ini selalu dilakukan pembentukan “klub timnas”? Setiap pemusatan latihan pelatih timnas harus memulai dari awal. Harus menyeleksi dan pemantapan fisik terlebih dahulu. Tetek bengek ini membuat persiapan timnas secara taktik selalu berkurang. Sehingga tidak bisa mencapai hasil maksimal yang diinginkan pelatih. Hal ini menunjukkan ada yang salah dengan system kompetisi kita. Bagaimana cara klub mengelola pemain secara fisik, mental, ataupun taktik tidak sinkron dengan yang diharapkan timnas. Ini yang membuat timnas harus membangun lagi pemain dari awal.

Nah, kekalahan dari Bahrain ini datang di saat yang tepat. Di saat PSSI akan menyelenggarakan kompetisi baru yang disebutnya professional, tanpa APBD. Selain pembenahan secara sumber dana, seharusnya PSSI juga meningkatkan standar-standar klub mengenai pembangunan fisik dan mental yang selaras dengan program timnas.

PSSI juga harus memperhatikan pembinaan usia dini dengan menggelar kompetis-kompetisi kelompok umur secara konsisten. Disamping pengembangan pemain, PSSI juga harus memperhatikan tentang pengembangan pelatih. PSSI bisa mengadakan workshop kepada pelatih-pelatih di daerah-daerah.

Apapun itu, semoga PSSI dapat mengambil pelajaran dari hasil malam ini. Merekalah yang seharusnya paling tertampar dengan kekalahan ini. Tamparan bahwa ternyata mereka belum menghasilkan apa-apa. Dan peran kita sebagai supporter adalah terus mendukung semua kebijakan PSSI serta mengawalnya.

Semoga tamparan malam ini benar-benar membangunkan kita.

2 komentar:

  1. Seperti biasa, tulisannya merangkumkan, menjelaskan, plus tambahan solusi atau at least perspektif positif. Selamat! untuk tidak menjadi butek :)Seperti biasa, tulisannya merangkumkan, menjelaskan, plus tambahan solusi atau at least perspektif positif. Selamat! untuk tidak menjadi butek :)

    BalasHapus
  2. hehe terimakasih manzila :)
    Mari tidak menjadi butek!

    BalasHapus