Senin, 28 Februari 2011

Di Atas Awan

Ketika kita di dataran rendah dan melihat ke atas, sering terlihat awan telah menutupi gunung.

Namun ketika kita sedang di dataran tinggi dan udara putih pekat itu datang, kenapa kita hanya menganggapnya "kabut"?? Bukankah itu awan yang sebagaimana kita lihat saat kita di dataran rendah?

Kenapa kita tidak bangga bahwa kita memang sedang di atas awan? :)

Sabtu, 26 Februari 2011

Negeri Impian

Adakah hubungan antara wajibnya menonton infotainment di pagi hari dengan budaya ngerumpi ibu-ibu? Pas beli sayur di pasar, ketika sedang arisan, bahkan ketika pengajian belum dimulai.

Apakah ada korelasi antara menjamurnya berita kriminalitas di televisi pada siang hari dengan semakin maraknya kasus-kasus kriminalitas tersebut? Seakan-akan bahan pemberitaan kriminal tak ada habisnya setiap hari. Kriminalitas yang datang dari seluruh pelosok negeri diwartakan dengan berbagai macam motif dan cara.

Tolong beritahu saya pengaruh sinetron yang mendominasi malam hari dengan pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Saling curiga dan berprasangka. Bangsa mellowdramatic dengan pola pikir yang lambat.

Dan apakah itu yang sangat berhasil menyita waktu kita? Ya, televisi. Kotak ajaib yang mempersembahkan dunia. Hanya dengan duduk diam di depannya dan dengan menatapnya takjub, kita bisa mempelajarai banyak hal. Sehingga tidak dipungkiri juga, acara televisi merupakan pembentuk opini publik yang paling ampuh. Kini televisi merupakan sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai berita aktual di penjuru negeri dapat diketahui dengan mudah dan cepat.

Dwyer dalam Amalia (2008) menyebutkan bahwa:
  • Televisi sebagai media audio visual mampu merebut 94% saluran masuknya pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga.
  • Televisi mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar televisi maupun hanya sekali ditayangkan.
  • Secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian.
Lihat! Betapa vitalnya pengaruh televisi bagi keseharian kita. Terlebih, kini televisi menjadi sumber utama masuknya informasi. Kita lupa kalau memiliki fungsi filterisasi dalam masing-masing individu. Televisi semakin berkuasa.

Acara-acara di dalamnya dapat membius pemirsanya. Media yang seharusnya potensial untuk menjadi pendidik virtual ini pun terjangkit virus kapitalisme. Atas nama rating, tayangan "tidak mendidik" mendapat porsi utama, dan tayangan mendidik dianaktirikan. Dunia pertelevisian telah mengalami disorientasi untuk mendidik penontonnya.

Yang paling dikhawatirkan adalah jikalau televisi merubah karakter dan nilai-nilai kebudayaan daerah yang dijunjung. Di sini sisa-sisa efek sentralisasi masih terasa. Masyarakat daerah berlaku seragam, seseragam yang ditawarkan dalam acara seperti infotainment dan sinetron. Masyarakat pedesaan, dengan tingkat pendidikan yang masih kurang, riskan untuk menelan mentah-mentah tayangan-tayangan televisi itu.

Dalam Diansya (2009) terdapat penjabaran penelitian Olken yang telah mensurvei lebih dari 600 desa di Jatim dan Jateng, yang hasilnya antara lain:
  • Pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi lebih bagus menunjukkan adanya partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah.
  • Di pedesaan itu juga terlihat adanya tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerjasama perekonomian dan perdagangan.
Nah lo!!!

-------------------------------------------------------------------

Apakah kita memimpikan negeri di mana masyarakatnya damai berdampingan? Sederhana dengan sosialisasi nyata. Jauh dari hingar-bingar kapitalis. Saling percaya antar warga. Berbusana dan berlaku apa adanya mencerminkan karakter pribadi yang saling melengkapi. Bukan karakter seragam yang telah terbentuk oleh televisi.

Adakah negeri impian itu?

Ada! Negeri Impian itu bernama Karimunjawa.

Negeri Impian yang damai. Dengan tingkat kepedulian tinggi, karena kepedulian itu tidak terserap di layar kaca. Listrik di Karimun hanya menyala saat hari gelap saja, yaitu antara jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Jadi masyarakat Karimun terbebas dari televisi yang menyesatkan pada siang hari.

Nilai tambah lainnya adalah ditetapkannya Karimunjawa sebagai daerah wisata alam bahari. Wisata Karimunjawa hanya menawarkan keindahan alam laut dan pantainya. Dalam artian, wilayah Karimunjawa sebisa mungkin dijaga dari hingar bingar hiburan lainnya, seperti pub, kafe, dan semacamnya.

Yang paling membuat saya takjub adalah hampir tidak adanya kriminalitas di daerah ini. Pintu-pintu rumah penduduk hampir tidak pernah terkunci. Bahkan pintu di mana tempat menginap terbuka lebar sepanjang malam. Satu lagi fakta yang mencengangkan yaitu semua sepeda motor di Karimun diparkir dengan kunci kontak yang selalu terpasang. Ya, tak peduli siang atau malam, sepeda motor diparkir begitu saja. Bayangkan jika kebiasaan itu diterapkan di Surabaya, misalnya.

Mungkin masyarakat Karimun terselamatkan dari berita-berita kriminal yang belakangan semakin kreatif saja motifnya.

Itulah potret dari salah satu daerah (pedesaan) yang belum mendapat subsidi penuh dari PLN. Karena sumber listrik di Karimun berasal dari Pembangkit Listrik Daerah. Masih banyak daerah-daerah (pedesaan) di Indonesia yang bernasib serupa, namun sisi baiknya mereka masih sangat asli Indonesia.

Khusus untuk Karimunjawa, berkah ramahnya masyarakat ini masih ditambah dengan eloknya pemandangan pantai dan terumbu karang nan eksotis.

Sebagai penutup, saya menemukan artikel dari Majalah Tempo Online tertanggal 22 Mei 1971 tentang pengembangan Pulau Bali. Saya akan mengutip ucapan Manager Bali Beach Sani Soemakno:
"Djalan-djalan ke desa tidak perlu diperbaiki, listrik tidak usah mentjapai pelosok. Alasanja mudah: sekali teknologi mendjalar ke desa, turispun mendjeladjah ke sana. Akibatnja bisa dibajangkan. Di saat obor diganti neon, pelita diganti lampu, maka Bali yang eksotik akan hilang."


Jadi, tetaplah Indonesia, Karimun :D

Jumat, 25 Februari 2011

Ruang Ekonomi

Setelah menempuh perjalanan darat dengan bus dari Kediri sampai Jepara, untuk menyeberang ke Karimun maka saya harus menggunakan kapal ferry. Ini bukan pengalaman pertama saya naik kapal ferry, saya sudah pernah beberapa kali waktu menyeberang ke Pulau Bali. Namun mengingat waktu tempuhnya, ya, ini pengalaman pertama saya 6 jam di atas laut! Bayangkan 1/4 hari berada di atas goyangan gelombang laut.

Seperti biasa, lantai dasar kapal ferry adalah semacam garasi untuk menampung kendaraan yang menyeberang. Ketika naik tangga dan masuk ke ruang penumpang, semua gambaran keceriaan perjalanan itu sirna. Bagaimana tidak, ternyata ruang penumpang itu telah berubah menjadi seperti ruang pengungsian.


Lantai ruang penumpang disulap menjadi tempat tidur masal dengan alas tikar. Didukung pula pihak kapal ferry menyewakan single sleeping bed seharga 10 ribu selama perjalanan. Bahkan lantai di sela-sela kursi pun dijejali. Dan kursi-kursi yang kosong karena ditinggal "penduduk"-nya yang tidur di lantai itupun mengalami perluasan fungsi menjadi tempat tidur juga.


Saya rasa tidak berlebihan saya menyebutnya tempat pengungsian. Mereka mengungsi dari mual. Mereka membunuh mati gaya 6 jam terombang-ambing dengan kenyamanan tidur.

Namun tidak selamanya kenyamanan mereka berdampak nyaman bagi penumpang lain, terlebih orang awam seperti saya. Pemandangan yang terlihat jelas-jelas mengganggu dan terkesan kumuh. Seorang bule backpacker cewek juga bereaksi hampir sama dengan saya ketika memasuki ruang penumpang yang ruang ekonomi itu. Kaget, bingung mau menempatkan di mana barang-barangnya karena hampir semua lantai telah terisi rebahan badan. Bule yang belakangan saya ketahui bernama Yoanna itu pun tampak berhati-hati melangkahkan kaki di sebelah kepala-kepala orang yang tertidur pulas.

Tidak hanya di ruang penumpang, mereka yang merasa tidak mendapatkan ruang untuk sekedar meluruskan kaki pun memilih garasi di lantai bawah untuk tempat tidur. Benar sekali, mereka tidur di atas kendaraan bak terbuka bahkan tepat di samping roda kendaraan.


Mungkin inilah gambaran ruang atau kelas ekonomi di semua alat transportasi di Indonesia. Saya teringat ketika beberapa kali perjalanan Kediri-Jakarta dan Malang-Jakarta menggunakan kereta ekonomi, kereta Brantas dan Matarmaja. Saya juga menemui hal serupa, kekumuhan serupa. Kebetulan saat itu saya memiliki tiket tapi tanpa tempat duduk. Yap, bisa ditebak di mana saya menghabiskan hampir 18 jam perjalanan di lantai kereta. Kadang berpindah di depan pintu gerbong untuk mencari udara segar, kadang di antara gandengan gerbong, dan malam hari tidur beralaskan koran di lantai jalan kereta dan harus rela dilangkahi para penjual kopi.

Tak berebda jauh juga dengan bus ekonomi. Bus ekonomi tidak mengenal kapasitas jumlah penumpang. Bus ekonomi tidak mengenal terminal atau halte. Siapapun sah untuk naik hingga tidak ada ruang untuk menolehpun. Aroma asap rokok bercampur dengan pekatnya keringat. Kumuh.




Pertanyaannya, kenapa harus dinamakan ruang atau kelas ekonomi?
Apakah serendah itu arti kata ekonomi di Indonesia?
Sehingga ketika kita membicarakan tentang ekonomi maka sasarannya selalu masyarakat kelas menengah ke bawah.
Dari sini pun kita sudah dilatih untuk memahami rendahnya tingkat ekonomi di Indonesia...

ekonomi Indonesia: tidur di antara kaki-kaki

Kamis, 24 Februari 2011

Don't be Superman

Item dan Tomblok melakukan segalanya untuk dapat memenuhi janji bertemu di Jepara jam 7 pagi. Mereka adalah para pejuang ibukota dengan segala kepenatannya. Hari itu, Jumat, 18 Februari 2011 masih termasuk hari kerja. Pulang jam 5 sore, mereka masih harus melawan arus kemacetan Jumat sore. Seakan melupakan lelah, mereka menemui resah diburu waktu. Terminal Kampung Rambutan adalah meeting point mereka, dengan pertimbangan titik tengah jarak tempuh. Tidak cukup bis kota, bahkan mereka berganti ke ojek untuk menembus macet.

Di terminal Item sampai jam 19.15 sedangkan Tomblok jam 19.30. Mereka langsung menemui kenyataan bahwa bus yang seharusnya mereka tumpangi sudah berangkat. Tidak peduli tenaga yang tersisa, mereka terus mengumpulkan asa. Bertanya kesana kemari, mencari info, mencari alternatif. Hingga sepucuk harapan muncul bersama sebuah tawaran.

Tomblok menyebutnya preman, karena tawaran bus itu bukan berasal dari sebuah P.O. namun oleh sekumpulan orang yang mampu mencium peluang. Dengan bekal banyaknya penumpang jurusan Jawa Tengah yang terlantar dan tarif di atas rata-rata, "preman" itu mencarter bus untuk menjalankan P.O. instannya. Benar saja, mereka yang sudah buntu, tidak memiliki jalan keluar lagi menerima ajakan "preman" itu. Tarif yang lebih mahal pun bukan penghalang, atas nama janji. Jam 9 mereka berangkat, asa itu kembali membuncah seiring janji "preman" itu untuk sampai Semarang jam 5 pagi.

"Al. mohon maaf saya dgn penuh sesal memberitau bahwa saya tdk mlanjutkan prjalanan. Jam segini saya g lnsng brgkt namun k pulo gadung malah. Dgn itungan sprti itu kta tdk bisa. Baru saja bisnya mogok. Mohon maaf sekali. Sprtinya tujuan saya k jogja." sms dari tomblok pukul 22.31.

Karena bus yang mereka tumpangi adalah bus carteran, mungkin para "preman" itu tidak memahami kondisi terakhir bus itu. Silakan dibayangkan bagaimana kacaunya Tomblok dan Item. Kondisi fisik dan psikis yang terkuras. Antara putus asa, optimistis, dan janji. Tidak ada usaha lain yang bisa dilakukan. Tidak memungkinkan untuk menuntut "preman" itu, karena mereka tidak berada di bawah naungan P.O. apapun. Mustahil untuk berganti kendaraan, karena terbatasnya informasi dan waktu.

Di sisi lain saya hanya bisa terus menyupport mereka dengan hal-hal positif dan alternatif yang terlintas serta doa. Akhirnya sekitar jam 23.00 bus mereka berangkat lagi. Kamipun bisa tenang dan terus berharap semoga mereka bisa tepat waktu.

Jam 2.33 dini hari Item mengirim sms, "Di...bus e mogok2 meneh... T_T ak wes lemes, kok angel men yo..."

Ya, lemes mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan di mana kita sudah tidak memiliki tenaga. Tenaga untuk memperjuangkan hingga tenaga untuk sekedar berharap.

"Iya patah semangat karena dgn kondisi seperti ini, kondisi fisik sprti ini saya pasti 100% tdk ikoet. Setelah nyampe sana badan remuk. Kta masih 8 jam lg br nyampe karimun. Klo tdk ada kapal? 6 jam lg br smpe jogja. Capeknya kyk apa tuh? Blm prjlnan plg k jkt dr karimun hari selasa. Rabu ak masuk lg. Memang ak ga sebebas dulu. Apabila mrasa kecewa krn kurang berjuang ya mohon maaf. But we really really tried." sms Tomblok jam 4.40 menegaskan.

Di samping itu, kondisi ini diperparah dengan Aci yang dijadwalkan harus ketemu mereka jam 5 pagi. Oke, saya jelaskan posisi Aci. Aci sedang di Solo, perjalanan Solo-Semarang menempuh waktu sekitar 3 jam, otomatis Aci harus berangkat jam 3 pagi. Untuk berangkat jam 3 pagi, maka Aci harus "ngungsi" di tempat kos temen cowoknya. Tapi karena gak mungkin memaksa temennya untuk begadang sampai jam 3, Aci berencana berangkat jam 12 dan sampai di terminal Semarang jam 3 pagi. Aci pun masih harus menunggu Item dan Tomblok di terminal, dini hari sendirian! Ditambah Aci yang tidak enak badan, pusing dan demam, juga menjadi pertimbangan Tomblok dan Item.

Merekapun memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja. Bus sering mogok dan harus ganti bus sebanyak 3 kali! Total perjalanan selama 25 jam dari Jakarta sampai Jogja. Dan selama itu pula Tomblok dan Item mengaku tidak makan nasi!
---------------------------------------------------------------

Saya berada di Jawa sisi sebaliknya. Betapa bodohnya saya yang tetep optimis, percaya mereka akan datang tepat waktu. Bodohnya saya yang menepikan sesak yang mereka alami dan terus memberi harapan segarnya udara pantai. Seperti memompa ban bocor.

Untuk Item, Tomblok, dan Aci saya membungkukkan badan. Saya salut atas semua usaha kalian. Selama ini saya selalu mencari apa itu win-win solution. Walaupun pada akhirnya lebih sering saya yang mengalah, toh saya selalu punya cara tersendiri untuk merubahnya menjadi "win".

Namun kalian dan pengorbanan kalian telah menampar saya. Ini semua tidak melulu tentang hasil, tapi proses. Perjalanan kalian, hambatan-hambatan, hilangnya harapan, rasa kesal yang teramat sangat dan kebesaran hati kalian merupakan pelajaran untuk kita semua. Pelajaran yang akan menjadi pertimbangan "win" kita selanjutnya.

"Don't be superman," adalah potongan sms terakhir dari Tomblok pada Sabtu, 19 Februari 2010 jam 4.42. Yep, win-win solution adalah sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah. Superman hanyalah fiksi. Tidak ada yang benar-benar win-win solution, selalu ada pengorbanan. Tetapi, dengan semua kebesaran hati kalian dan mengingat semua keadaan saat itu, kita bisa merubah pengorbanan menjadi kemenangan kalian. Dalam hal ini, kalian lebih berpengalaman dan dewasa dibanding kami :)




NB: jika waktu mengijinkan, saya sendiri yang akan mengajari Item, Tomblok, Aci snorkling!!! :D

Sabtu, 12 Februari 2011

Menonton Mesir

Semalam sekitar jam 23.20 saya sudah bersiap untuk tidur. Sembari menunggu kantuk saya pantengin timeline twitter saya. Dan ada satu twit, entah saya lupa dari siapa yang berisi "Mubarak stepped down!" Sontak seketika itu juga saya menyalakan tivi tidak mau ketinggalan berita "penting" tersebut. Ditayangkan gegap gempita sorak sorai rakyat Mesir yang turun ke jalan. Reporter pun mengabarkannya dengan berapi-api. Setelah 18 hari turun ke jalan melancarkan aksi protes, akhirnya perjuangan mereka mencapai klimaksnya. Perjuangan yang telah menelan kurang lebih 300 nyawa itu pun berhasil memaksa Hosni Mubarak untuk menyerahkan jabatannya ke pihak militer.

Ya, kemarin adalah hari Jumat. Jumat ketiga dari selang 18 hari aksi rakyat Mesir tersebut. Ketika sebagian orang menganggap istimewa dengan tanggal yang seperti direfleksikan cermin 1102I2011, maka rakyat Mesir mendapatkan apa itu yang benar-benar disebut istimewa! Jumat juga bisa disebut sebagi hari raya kaum duafa. Dalam konteks ini saya menganalogikan dengan kaum yang tertindas, yaitu rakyat. People power berhasil menggulingkan rezim diktator Muabarak. Gerakan yang diawali oleh pemuda via jejaring sosial itu semakin menegaskan keistimewaan hari Jumat.

Jujur, semalam saya ikut senang, terharu, dan iri! Tentu senang, dengan pemberitaan media yang seperti itu, menguras sebagian energi dan perhatian kita, wajar kita senang jika perjuangan mereka berhasil. Selamat Mesir! Terharu karena demokrasi kembali menunjukkan kekuatannya. Tak terbayangkan bagaimana euforia mereka. Tangis, teriakan, saling berpelukan, ucapan syukur tak henti-hentinya, kebanggaan yang membuncah, semua memiliki negara. Dan yang terakhir iri, yah sudahlah.

Sebelum begitu larut, saya menampar pipi saya sendiri, agar sadar. Jelas-jelas saya menginginkan berada di tengah euforia seperti itu. Tapi, lagi-lagi kita hanyalah penonton. Indonesia generasi saya (mungkin) hanyalah penonton. Bangsa ini terlalu baik hati dan mudah bersimpati. Namun berhenti di situ saja. Kita tidak mempunyai kemauan untuk diberi selamat bangsa lain.

Ketika Wimar di twitnya mengatakan, "saya pernah merasakan euforia itu dua kali, 1966 dan 1998," saya (dan sebaya saya) masih sebatas generasi yang apatis. 1966 tentu belum lahir dan 1998 masih kelas 5 SD. Mungkin generasi saya tidak memiliki rasa memiliki negara. Tapi tampaknya ada peluang... hehehe


NB: Saat menonton berita euforia Mesir, bendera Mesir yang dikibar-kibarkan di kegelapan itu yang terlihat hanya warna merah dan putih saja. De javu? :)