Minggu, 10 April 2011

“Kenapa sepedaan saja harus pake fixie?”

Dalam benak saya yang masih apatis dengan tren fixie. Sampai pada malam itu Hilmi dan Ersa bermain fixiestudio.com, situs yang memungkinkan kita membuat gambaran fixie impian kita. Setelah dipaksa mencoba, akhirnya jadi juga fixie impian saya.



Dan seketika itu juga saya benar-benar jatuh hati. Besoknya saya langsung belajar tentang fixie dari internet. Kenapa kok dinamai fixed gear? Apa saja istilah-istilah bagian-bagian fixie? Harga part-part fixie. Semua saya lahap. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengkonsep sepeda saya sebagai sepeda yang “generik”. Maksudnya saya akan membangun sepeda yang part-partnya bukanlah part kelas satu, namun hanya part-part “biasa”. Juga saya akan memaksimalkan barang-barang bekas dalam pembuatannya. Reuse and recycle! (hahahaha, alasan gara-gara gak punya uang :p)

Besoknya lagi saya menjabani pasar loak. Part pertama yang saya dapat adalah frame. Frame itu langsung saya bawa ke tukang cat. Setelah itu saya membuat wheelset dan part-part lainnya. Seminggu setelah cat frame jadi saatnya merakit sepeda. Walaupun harus ada penyesuaian di sana-sini, akhirnya jadi juga. Yeay!!


Jadi, perlu waktu seminggu bagi saya untuk menyukai sesuatu dan mewujudkannya! “Just do it” kata Nike. Keinginan bukan untuk dipendam tapi direalisasikan. Keinginan bukan untuk diadukan dalam twitter. Keinginan bukan hanya sekedar khayalan. Keinginan itu seperti peluang. Apakah kamu akan memaksimalkan peluang itu atau tidak.

Hmm, mengenai pertanyaan di awal tulisan ini, saya akan menjawabnya. Kenapa harus fixie? Karena dengan fixie akan meningkatkan semangat kita untuk bersepeda. Warnanya yang warna-warni sedap dipandang dan meningkatkan kepercayaan diri tersendiri. Mungkin kini fixie sudah menjadi gadget yang dengan bangga ditenteng.

Namun saya punya filosofi sendiri untuk fixie. Seperti yang saya twitkan beberapa hari yang lalu. Fixie adalah jujur, tenaga yang kita keluarkan sama dengan laju sepeda. Fixie tidak ribet dengan birokrasi, tenaga kaki kita langsung ditujukan ke pedal yang dikayuh. Fixie tak kenal kompromi, tidak ada penyesuaian gear yang mempengaruhi kecepatan. Fixie mengajarkan untuk selalu waspada, karena tidak bisa nge-rem mendadak, harus berhati-hati dan waspada. Fixie adalah tentang terus bergerak, terserah pilihan kita, mau maju apa mundur?

Selain itu saya menghindari penggunaan kata “gowes” dalam kegiatan bersepeda saya. Karena sampai sekarang saya masih menganggap bahwa kata “gowes” adalah kata yang didengungkan hanya atas nama ke-keren-an. Karena kata “bersepeda” kurang sell out jika dibandingkan kata “gowes”. Seakan-akan “gowes” hanya merupakan praktek pamer dan keren-kerenan yang menghilangkan fungsi sebenarnya dari bersepeda. Ketika “go green” menjadi tren dan kehilangan substansinya. Memakan mentah-mentah tren bersepeda (eh, gowes :p) tanpa beraksi lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar