Rabu, 17 April 2013

Hari Ini Pasti Menang: Bukan Lagi Mimpi

"Film Indonesia masuk Piala Dunia."

Itu adalah jawaban singkat yang selalu saya sampaikan kepada siapapun yang bertanya tentang film "Hari Ini Pasti Menang". Lebih dari setahun lalu sejak ide ini dilontarkan oleh Andibachtiar Yusuf, dengan "hadist"-nya yang saya pegang teguh, "Jika Hollywood mampu membuat Amerika Serikat menang di Vietnam atau sanggup menumpas alien yang menyerbu bumi lewat film, maka lewat medium seni modern inilah saya meloloskan Indonesia ke Piala Dunia," saya masih menjaga mimpi itu. Menikmati dunia Gabriel Omar, dunia persepakbolaan Indonesia yang ideal.

Semua media perkenalan Gabriel Omar pun saya lahap. mulai dari akun twitter @gab_omar, blog, komik, teaser, behind the scene, dan tentu saja novel "Menerjang Batas" karya Estu Ernesto. Hingga tiba saatnya yang saya tunggu-tunggu, 11 April 2013, pemutaran perdana "Hari Ini Pasti Menang"! Yeay!!!

Mimpi saya makin membuncah ketika opening title bercerita mengenai hebatnya prestasi sepakbola Indonesia. Diiringi dengan aransemen menawan dari Ananda Sukarlan, lagu "Indonesiaku" mempertebal asa di lembar-lembar itu. Indonesia Raya kemudian menemui maknanya. Indonesia sebagai bangsa yang besar bukan sekadar koar-koar.

Kemudian kita dibawa ke tengah lapangan bola yang panas. Panas di dalam lapangan, pun panas di tribun penonton. Tak ayal karena ini adalah pertandingan penuh gensi antara Jakarta Metropolitan melawan Maung Lodaya Bandung. Scene di lapangan inilah salah satu yang saya nantikan, di mana di behind the scene-nya Ucup (panggilan Andibachtiar Yusuf) berusaha untuk menciptakan alur bola yang cantik dengan pemain-pemain nasional yang mumpuni, semacam Atep, Hasim Kipuw, Ramdhani Lestaluhu. Pertandingan terasa hidup, dan penonton pun disuguhi kehidupan dari suatu pertandingan itu sendiri.

Gabriel Omar (Zendhy Zain) diperkenalkan langsung sebagai seorang superstar yang labil emosinya. GO8 (panggilan populer Gabriel Omar), adalah top scorer Piala Dunia 2014, dan berkat telah canggihnya sistem monitor pemain di Indonesia, GO8 terukur memiliki akurasi tendangan 89,7%. Laiknya seorang goal getter, GO8 mendapat marking man to man dari bek lawan. Kemanapun GO8 bergerak selalu dikawal ketat, bahkan tak jarang dengan cara-cara kotor. Tak akan dilepasnya hidup-hidup. Hingga mencapai titik didih kesabaran seorang GO8, dan kita akan memahami mengapa Zidane menanduk Materazzi.

Mimpi saya masih terjaga. Namun hanya sampai scene berikutnya.

Ketika seorang suporter nekad masuk dan berlari ke dalam lapangan, sambil berteriak-teriak, "PSSI Anjing!!! PSSI Bangsat!!! PSSI Korup!!!" Maka hancurlah mimpi saya...

Sialan! Mungkin saya telat menyadari. Ternyata film ini bukan sekedar film mimpi picisan kisah sukses persepakbolaan Indonesia. Seharusnya saya tahu sejak awal, Ucup tak akan serta merta hanya membuat film "Amerika menumpas alien".

Sebelumnya saya menampik indikasi-indikasi HIPM bercerita mengenai bandar judi. Dari artikel-artikel promo yang beredar, dari review-review setelah Gala Premiere yang mengarah ke match-fixing, saya masih sedikit berharap tentang dunia ideal sepakbola Indonesia.

Ya, HIPM membuka mata kita akan adanya praktik pengaturan pertandingan demi sebuah kepentingan judi di dunia sepakbola. Riset mendalam hingga bertemu dengan bandar judinya langsung yang dilakukan oleh penulis naskah Swastika Nohara diterjemahkan dengan gamblang oleh Ucup. Bagaimana sarang seorang mafia judi yang serba mewah, lengkap dengan customer service-nya. Gambaran seorang cukong lapangan yang mengatur jalannya pertandingan layaknya seorang dalang. Dan tentu saja, yang juga tak dapat dipungkiri, bahwa pemain dan pelatih pun bisa juga terlibat dalam sistem itu.

Saya tidak tertarik untuk berpanjang lebar dengan judi dan pengaturan pertandingan, juga tentang alur cerita. Sudah banyak reviewer yang bercerita. Saya lebih tertarik dengan gimmick, sentilan, celetukan, dan setting yang dibangun di HIPM.

Yang pertama, suporter. Seperti yang tertulis di atas, terdapat suporter yang menerobos masuk ke lapangan dengan memaki-maki PSSI. Sebenarnya apa tujuan suporter nekad itu? Apa motivasinya? Saya pribadi berpendapat, aksi heroik suporter seperti itu adalah sebagai ekspresi kekecewaan, untuk menarik perhatian luas, dan untuk menyampaikan pesan. Maka saya sangat yakin, scene itulah perpanjangan lidah Ucup untuk mengekspresikan kekecewaan, untuk menarik perhatian luas, dan menyampaikan pesan. Pesan kebenaran.

Aksi suporter lainnya yang berkesan ada pada pertandingan pertama, antara Jak Metro versus Maung Lodaya, suporter Jak Metro terdiri dari suporter yang berbaju orange dan hijau. Mungkin ada maksud tersembunyi disini. Jika dalam Romeo Juliet (2009), Ucup "memperjuangkan" perdamaian antara The Jak dengan Viking/Bobotoh. Dan ketika "tugas" itu selesai, maka di HIPM, Ucup mencoba untuk mendamaikan The Jak dengan Bonek. Aamiin.

Yang kedua adalah setting yang dibangun di HIPM. Ketika saya berharap dunia persepakbolaan Indonesia yang ideal, Ucup sedikit mengabulkannya dengan menyejajarkan sepakbola Indonesia dengan tim-tim hebat di Asia, bahkan dunia. Kalimat sombong Dimas Bramantyo (Ray Sahetapy), pelatih Jak Metro pada board meeting menyiratkannya. Jak Metro telah 3 (tiga) kali juara Liga Champion Asia, Coach Dimas merasa levelnya lebih dari sekadar level Asia.

Masih dari setting yang dibangun, HIPM dengan cerdik memotret Jakarta yang lebih nyaman. Mayoritas lokasi dipusatkan di apartemen mewah, kolam renang apartemen, hingga cafe dan restoran mewah. GO8 pun dengan gaya menunggangi motor boat menuju ke hunian mewah Coach Dimas untuk bertransaksi dengan pecahan rupiah tertinggi, yaitu 200 ribu rupiah yang bergambar Gus Dur!

Yang ketiga mengenai sentilan-sentilan yang banyak diucapkan oleh para aktor dan aktris HIPM. Andien (Tika Putri), menangis tersedu-sedu sambil mengutuk polisi. Tidak perlu teriakan lantang, tetapi tangis Andien cukup membuat kita yakin bahwa korps baju coklat itu pun juga tai (seperti yang diucapkan Andien). Ada juga pas pertandingan derby Jak Metro lawan Jayakarta FC, ketika tim Jak Metro harus diangkut dalam mobil anti huru hara karena harus menembus kerumunan suporter Jayakarta FC yang siap menyerangnya. Coach Dimas berujar, "Suporter Indonesia ini, tetap saja primitif!"

Salah satu sentilan favorit saya keluar dari mulut Roy (Ario Prabowo), yang berperan sebagai bookie yang bertugas di lapangan. Dia mengingatkan kita untuk tidak berjudi, karena tidak ada manfaatnya, bahkan cenderung merugikan. Menurut saya ini sangat penting. Ketika film HIPM menyasar kalangan suporter, besar kemungkinan pula ditonton oleh para remaja. Di sini Ucup harus memberi peringatan kepada penonton, seperti tulisan peringatan pada bungkus rokok.

-------

Aktor dan aktris di HIPM secara keseluruhan bermain baik. Ibnu Jamil yang memerankan Bambang Pamungkas dapat meniru dengan baik gestur dari sang legenda hidup. Yang paling mencolok adalah ketika menghadiri konferensi pers, Bepe banget! Mathias Muchus sebagai bapak GO8 terlihat passion-nya pada sepakbola. Namun yang paling outstanding menurut saya adalah akting dari Verdi Solaiman!

-------

Mimpi saya untuk menyaksikan Indonesia masuk ke Piala Dunia pun hanya sebatas mimpi. Karena HIPM merupakan cerminan kondisi persepakbolaan Indonesia kini. Carut marut PSSI, walaupun pada akhirnya Ucup sendiri memberi solusi: Andibachtiar Yusuf sebagai Ketua PSSI. Dan pengaturan skor, tentu saja. Jika level pengaturan skor atau mafianya tidak sebesar di HIPM, maka turunkan juga level persepakbolaan kita dari level HIPM. Suka atau tidak, itulah kenyataan. Bukan lagi mimpi.

Sabtu, 12 Mei 2012

The Naive Me

1. Dulu saya nyinyir ke teman saya yang punya BB karena "kesibukannya" dengan smartphone tersebut, sekarang saya punya BB.

2. Dulu saya menyayangkan pekerjaan seseorang yang terlalu over karena beranggapan bahwa suatu pekerjaan itu tidak harus ngoyo dan malah bikin kita mengeluh. Dulu menurut saya suatu pekerjaan lebih baik yang sejalan dengan hobi sehingga tidak malah membebani. Sekarang saya sudah bekerja dan pulang hampir selalu over time.

3. Dulu saya tidak punya sepeda motor karena beranggapan bisa mendukung penghematan energi (BBM dan panas) dan mengurangi polusi (asap dan suara). Sekarang, karena pekerjaan saya menuntut saya untuk menggunakan sepeda motor secara kontinyu.

4. Dulu saya berkeras hati untuk membeli BBM tidak bersubsidi jika harus membeli BBM. Sekarang saya pengkonsumsi setia BBM bersubsidi karena jarak tempuh yang lumayan jauh.


Kenapa?

Karena saya bergerak. Saya menemui kondisi baru dan akhirnya saya memahami. Saya menuju suasana baru dan kemudian saya menyetujui.

Ya, hidup harus terus bergerak.

Kalimat awal dalam 4 poin di atas adalah anggapan sempit saya...dulu. Yang kini saya pahami belakangan.


yaa...namanya juga NAIF.

Jumat, 13 April 2012

Happy Birthday Guy Fawkes!


"We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world."
Evey Hammond on Guy Fawkes

Senin, 09 April 2012

Investasi Emas

Buat anak-anak muda yang mulai melek investasi dan temen-temen ngajak-ngajak saya untuk investasi emas, monggo dikaji dulu QS. At-Taubah:34-35 :)))

Selasa, 27 Maret 2012

Mblok, Selamat Ulang Tahun!

Short Message Service, 27 Maret 2012, 9:12 am - 11:51 am

A: Mblok, selamat ulang tahun. Ndang rabi! Ngenteni opo maneh?

T: Iyo, insya cpt2.. Matur Nuwun Sobat.. Kapan dolane? Ak mbok abandon tenan iki..

A: Hahaha.. Easy man. Long weekend 6-8 april ga muleh jogja? Lak muleh, tak parani wes..

T: Ora persiapan pindah bung :D

A: Wah, yo'i bgt!! Selamat! Btw, melu demo we?

T: Ya jelas nggalah, I'm capitalist educated fool who believes in subsidies lead to inefficiencies. Kau?

A: Hahaha I dont care. Cuma orang bodoh yang suka protes.

T: Sebenernya, ak lbh mengambil stance enviromental conservation, we have to learn to manage a scarce resource better, hanya itu saja dan harus d budayakan.

A: Yap! Itu solusi. Mengikuti pembahasan pengelolaan minyak dan gas di ind, memang blm bijak. Blm lg masalah menjamurnya kend mtr. Sikapku, udh lama aku g duwe mtr.

A: Jd kapan kita pesta lajang? Pengen koyok the hangeover :p

T: Hahaha tak tau saya.... We'll find the time hahaha

A: Ndang selak aku mlebu kerjo.. Aku wes entuk offers :D

T: When you wear that shirt I got you 2 years ago, that's when we'll have fun. Yes, 2 years ago. :D

A: Hahaha dasar wong tuwek! Happy 24 again then.

T: Thank you!

Kamis, 15 Maret 2012

Sama Bodohnya

Saya sering tak habis pikir dengan kebodohan media, baik koran maupun televisi, atau apapun, yang menggunakan kata "ANARKIS" untuk mengidentikkan dengan kekerasan. Hal ini tentu saja suatu pembodohan publik dan membuat masyarakat (yang mau dibodohi) semakin antipati dengan kata anarkis. Padahal jika kita mau sedikit berusaha dengan mencari di mesin pencari yang tersedia di internet, google misalnya, kita bisa mencari apa itu definisi anarki yang sebenarnya, dan menjadi sedikit tidak bodoh.

Itu semua adalah efek dari media massa yang tidak bisa kita pungkiri telah berperan besar menggiring opini publik.

Hingga, saya akhirnya menyadari bahwa saya juga telah menjadi salah satu korbannya. Yaitu kata "KAPITALISME". Sebagian orang memandang negatif kata ini, termasuk saya tadinya. Kapitalisme dianggap sebagai simbol keserakahan para pemilik modal demi mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Bahkan demi mencapai tujuannya tidak jamak menghalalkan segala cara, semacam korupsi atau suap-menyuap. Dan memang, memang terjadi seperti itu.

Akan tetapi itu bukanlah tujuan awal kapitalisme. Arti kapitalisme sesuai dengan definisi dasar Oxford yang saya kiutip dari blognya pandji adalah "Sistem ekonomi berbasis kompetisi dimana produksi, distribusi, dan perdagangan dimiliki secara individual dan/atau perusahaan." Kapitalisme lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem terdahulu dimana semua dimiliki oleh kerajaan (monarki). Kapitalisme adalah pembebasan dan wujud dari demokrasi bahwa setiap individu berhak mendapatkan sesuai apa yang dikerjakannya. Jika saja saat ini kapitalisme menjadi begitu buruknya, itu adalah ulah manusia sendiri yang memaknai kebebasan dengan terlalu bebas.

Dan media sukses membodohi kita semua.

Rabu, 07 Maret 2012

Fail!

Kemarin Minggu saya lagi di Kediri, kampung halaman saya. Nah, kebetulan sekali hari itu di gang jalan rumah saya sedang ada jadwal kunjungan Walikota Kediri, Pak Samsul Ashar.

Meriah sekali. Diawal rombongan ada pertunjukan jaranan (kuda lumping) yang berperan menjadi voorijder pengawal sekaligus menjadi woro-woro bahwa orang besar akan lewat. Rombongan itu terlihat banyak sekali, sekitar 50 orang. Padahal yang berkepentingan hanya 1 orang saja, Pak Wali. Yang lain hanya mengekor.

Saya tidak begitu paham apa programnya, tapi di situ Pak Wali meninjau bagaimana kondisi rumah, sepertinya tentang kebersihannya dan implementasi bagaimana seharusnya rumah sehat itu, mengingat Pak Wali berlatar belakang seorang dokter. Jalan-jalan trus kalo pas lihat ada tumbuhan yang rimbun di halaman rumah, dihampiri, dipuji, dan dikasih uang 50 ribu rupiah.

"Pak Wali yang peduli rakyatnya."

Sehari sebelumnya, warga diminta untuk kerja bakti memperindah jalan. Sehari sebelumnya warga diminta untuk memasang umbul-umbul. Untuk apa semua itu? Biar terlihat bersih, rapi, indah saat kedatangan Pak Wali.

Palsu!

Gini, kunjungan kepala daerah ke lapangan itu salah satunya juga untuk meninjau dan mengevaluasi. Satu contoh adalah kebersihan. Jika pada kenyataannya ada masalah kebersihan, masalah pembuangan sampah misalnya. Namun ketika kunjungan, kepala daerah tidak menemukan suatu masalah di situ, maka program perbaikan tidak akan dilakukan.

Kini kita generalisasi ke tingkat yang lebih luas, negara. Seperti yang kita ketahui jika ada kunjungan kenegaraan oleh presiden ataupun kunjungan anggota DPR, daerah tersebut akan mempersiapkan diri sedemikian rupa. Merapikan, memperindah, mempercantik, ahh apapun itu memoles diri dan menggunakan topeng. Dan apa yang presiden atau anggota DPR lihat seringkali bukanlah apa yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak akan merasa ketidaknyamanan seperti yang kita rasakan. Karena ulah kita sendiri. Atau mungkin karena ulah kita yang tidak ingin dilabeli gagal.

Apa guna kita berteriak akan pemberantasan korupsi, namun jika ada pemeriksaan semua sudah tertutup rapi?

Mungkin saja bukan kita yang salah. Tetapi birokrat kolot yang masih berazas "Asal Bapak Senang".

Rabu, 01 Februari 2012

Menerjang Batas: Berpetualang dengan Mesin Waktu, Menembus Mimpi

Sejak pertama kali @andibachtiar melontarkan ide tentang Gabriel Omar, saya sangat antusias. Sudah lama saya mengagumi beliau dengan mengikuti setiap postingan blognya dan menonton film-filmnya, antara lain Hardline, Romeo Juliet, The Conductors dan Hope. Oleh karena itu saya sangat yakin film Gabriel Omar akan menjadi sesuatu yang hebat.

Saya pun mulai mem-follow @gab_omar dan menikmati setiap twitnya dalam mengenalkan dunianya. Dia konsisten menceritakan harmoni sepakbola Indonesia versinya tanpa peduli carut marut yang terjadi di dunia nyata. Sehingga terkadang membawa kita larut pada dunia persepakbolaan Indonesia yang ideal, dunia Gabriel Omar. Saya ingat ketika awal kemunculannya dia menjawab beberapa pertanyaan followernya yang menanyakan nama klub sepakbola di kotanya. Karena namanya memang unik, merepresentasikan ciri khas kota tersebut, dan tentu saja tidak ada unsur nama-nama tim perserikatan. Kerennya, @gab_omar tak jarang pula bertukar sapa dengan para pemain timnas sungguhan, seperti Bambang Pamungkas (@bepe20), Ahmad Bustomi (Bustomi_19), dan Arif Suyono (@ariffsuyono).

Kemudian muncul blog Gabriel Omar di gabrielomar8.com yang dibumbui foto-foto masa-masa kecilnya ketika berlatih di Ungaran Football School. Saya juga mendownload teaser resmi Gabriel Omar di youtube. Hingga media yang terbaru adalah novel "Menerjang Batas". Novel "pengenalan" latar belakang Gabriel Omar dan dunianya.

Novel ini dimulai pada tahun 1985 ketika Indonesia bertanding melawan Korea Selatan dalam play-off Piala Dunia 1986. Dan seperti yang kita ketahui, cerita ini berakhir pada lolosnya Indonesia ke Piala Dunia 2014. Rentang waktu 29 tahun ini membuat kita seperti berada di dalam mesin waktu. Ditambah dengan pemaparan deskriptif Estu Ernesto dalam bahasa yang sederhana namun berbekal kekayaan pengetahuannya membuat kita semakin berpetualang dalam mesin waktu.

Dimulai dari sebuah desa kecil di Ungaran, Jawa Tengah yang menceritakan Edi Baskoro, pemuda yang sangat mencintai sepakbola dan memiliki mimpi dan keyakinan tinggi terhadap persepakbolaan Indonesia. Bersama ketiga karibnya, yaitu Hadi, Yitno, dan Ismanto, kita dibawa ke perhelatan Piala Dunia 1986 di Argentina, pertandingan Juara Sejati di Jogja, dan perolehan perak timnas di ajang Asian Games 1986 di Cina. Kemudian Edi bersama Ismanto dan Pak Abdul menjadi saksi emas pertama timnas Indonesia di ajang Sea Games pada 1987. Gagalnya timnas di semifinal Sea Games 1989. Kembali ke kancah lokal, pertandingan antara PS Tugu melawan Jakarta Metropolitan pada 1991 dan kelahiran sang bintang Gabriel Omar Baskoro, serta emas kedua timnas di Sea Games 1991.

Mesin waktu berputar balik ketahun 1988 yang menceritakan rencana besar Joseph Marshall Erwiyanto, bos Jakarta Metropolitan, tentang pembinaan klub. Kemudian kita melaju kembali ke Piala Asia 1992 di Jepang dan berakselerasi ke tahun 1996 di mana Indonesia sampai ke fase semifinal. 1997 Gabriel Omar masuk UFS dan pada 1999 menjadi top skor sebuah turnamen, walaupun hanya ditempatkan sebagai pemain belakang.

Mesin waktu terus melaju pada medio 2000-an hingga pada perhelatan Piala Asia 2004, timnas Indonesia berhasil menorehkan sejarah sebagai Juara Asia! Cerita terus berlanjut seputar Jakarta Metropolitan hingga perjalanan timnas. Dan puncaknya, Gabriel Omar Baskoro berhasil membawa Indonesia mencapai perempat final Piala Dunia 2014 dan kalah secara dramatis dengan tuan rumah Brasil di Stadion Maracana.

*****

Kredit lebih patut disematkan pada tim produksi Gabriel Omar ini. Khayalan mengenai kondisi persepakbolaan nasional yang ideal tidak hanya sebatas khayalan, namun mereka dapat mempertanggungjawabkannya dengan menggambarkan lingkungan sepakbola dengan detil. Proses transfer, praktik team talk pelatih terhadap pemainnya di ruang ganti, hubungan pemain dengan supporter, koordinasi supporter, sampai profesionalitas kompetisi dan pembinaan usia dini dengan segala rencananya seperti menjadi solusi bagi pemegang tampuk kekuasaan persepakbolaan di negeri ini.

Tidak ketinggalan, salah satu bagian favorit saya adalah deskripsi selama berlangsungnya pertandingan yang menunjukkan bahwa penulis sangat memahami permainan bola kaki ini. Kita bagaikan benar-benar sedang berada di bangku kayu Gelora Bung Karno ataupun berada di depan layar kaca bersama teman-teman menyaksikan pertandingan tersebut. Yang paling menarik adalah ingatan tentang momen-momen kejuaraan sepakbola dunia masa lampau, baik Sea Games, Piala Asia, hingga Piala Dunia. Entah itu pemaparan sejarah atau karangan, atau setengah sejarah setengah karangan, saya tidak mau repot-repot mengambil pusing. Yang pasti saya percaya bahwa itu adalah bagian dari sejarah. Saya ingat beberapa waktu yang lalu @andibachtiar sering ngetwit bahwa dia sedang menonton arsip-arsip sepakbola nasional.

Terlepas dari hingar bingar sepakbola, penulis juga lihai memainkan emosi pembaca. Jujur saya benar-benar ikut bersedih ketika nyawa Ibu Wiwin tidak bisa diselamatkan saat berjuang melahirkan Gabriel Omar. Ada juga cerita antara Gabriel dengan Andien yang menjadi pemanis di novel ini.

Sejauh pengamatan saya, terdapat ketidaksinkronan antara novel, blog, dan teaser. Seperti nama tokoh cewek yang akan dipasangkan dengan Gabriel. Sebelumnya saya mengenal nama Nitya dalam salah satu postingan blognya, namun dalam novel terdapat nama Andien. Satu lagi, dalam teaser Indonesia sempat memimpin 2-1 melawan Brasil, akan tetapi di novel kita kalah 2-1.

*****

Ada 2 kunci dalam novel ini. Kunci yang pertama adalah kata-kata Andibachtiar Yusuf dalam kata pengantar, "Jika Hollywood mampu membuat Amerika Serikat menang di Vietnam atau sanggup menumpas alien yang menyerbu bumi lewat film, maka lewat medium seni modern inilah saya meloloskan Indonesia ke Piala Dunia." Ini adalah mimpi dan upaya menggapai mimpi ala Bang Ucup (nama panggilan Andibachtiar Yusuf).

Kunci yang kedua adalah ungkapan Brasil kuno yang dikutip Bang Ucup di awal kata pengantarnya, "If you're the only one who dream, it's only a dream. But when millions share the same dream, it's reality." Dengan segala manuvernya Bang Ucup mengajak kita untuk mempunyai mimpi yang sama dengannya sehingga akan membuat mimpi itu menjadi kenyataan karena kita akan menggapai mimpi itu dengan cara kita masing-masing.

Semua media yang digunakan seperti twitter, blog, teaser, dan novel ini adalah strategi pemasaran yang jitu. Karena semua itu merupakan sebagai media "pemanasan" bagi kita untuk kembali bermimpi dan menumbuhkan keyakinan kita agar kita bisa menjangkau mimpi gila Andibachtiar Yusuf.

Dan Indonesia memang akan berlaga di Piala Dunia.




PS: Bahkan dalam novel ini Bang Ucup juga masih bermimpi untuk menjadi Ketua Umum PSSI. Amin :)))

Selasa, 31 Januari 2012

On My Way


-Sebuah Debut Mixtape oleh Aldi untuk Tika-




1. L'alphalpha - About A Friend
Hai, teman. Berbagi semua dan ku tak kuasa menolak ceritaku. Selalu ada membahu, takjarang berbagi bahu. Baik untukku. Baik untukmu. Terlalu baik untuk mereka. Beristirahatlah sejenak. Di sini. Bersamaku.

Yes you are my friend. Don't you ever cry, don't you say goodbye.


2. Hellogoodbye - If You Wanna, I Might

Apa yang kau rasa? Apa yang ku rasa? Masih mencari tahu. Satu hal yang pasti kita tertawa. Bebas. Inderaku sama sekali tidak menolak aroma nafasmu. Seperti menemukan jawaban.

Sometime I wish I could be the one fish that you choose out of all in the sea.


3. Regina Spector - Us

Dan merekapun mulai membicarakan kita. Isu berhembus menyelidik apa yang tersembunyi di hati. Persetan apa kata mereka, kita hanya tertawa. Tak ada yang tau persis, bahkan kita. Tanpa dasar apa-apa. hanya hati yang juara. Kita masih tertawa.

We're living in a den of thieves, rummaging for answer in the pages.


4. Wolfmother - Vagabond

Sial, aku berlaku layaknya Summer versi laki-laki. Apa kau berbahasa dengan baik? Lihat kata "sial" di awal kalimat. Itu berarti penyesalan.

Please don't make her do things against her will.


5. The Adams - Hanya Kau

Tapi memang... Cuma kamu.

Tak mudah tuk bisa mencari rasa yang telah mati, namun asa telah menanti di dalam hati ini. Hanya kau yang bisa...

6. Hellogoodbye - Oh, It Is Love

Oke, saya menyerah. It is love.
Dua tahun pembelaan dan kalah. It really is love.
Silakan hukum saya. Saya bertekuk lutut.

It is love for the first time I pressed my lips against yours.


7. Hellogoodbye - Here, In Your Arms

Aku mulai ketergantungan kamu. Senyum pagimu, semua rencanamu, labil emosimu, dan setiap helai lakumu. Memenangkanku.

I like when you sleep, when you sleep next me.


8. The Trees and The Wild - Fight The Future

Satu hal yang tersisa adalah mewujudkan mimpi-mimpi kita.

I'll fight the future for you. Maybe.




Trust me, I'm




PS:
- Saya mencari cara yang paling efektif dalam menyajikan mixtape. Saya ingin pendengar dapat mendengar sekaligus membaca "maksud" di waktu yang sama, dalam satu file. Maka saya membuat mixtape ini dalam bentuk slide show power point, jadi pas di-klik muncul slide "maksud" sekaligus memutar lagunya. Begitu seterusnya :)))
- Hellogoodbye mengambil jatah 3 lagu. Karena saya ingin kamu selalu menjadi orang pertama yang saya ucapkan "Hello" di setiap pagi, dan "Goodbye" di setiap malam. Sisa hidup saya.

Minggu, 22 Januari 2012

e-KTP?

Beberapa hari yang lalu saya terpaksa pulang hanya untuk foto e-KTP di Kantor Kecamatan Kota Kediri.

Satu hal yang masih menggelitik saya adalah: Kenapa namanya harus e-KTP?

KTP adalah identitas warga negara Indonesia, nah, tapi kenapa namanya malah gak Indonesia banget? Pake tambahan "e-" di depan. Saya jadi teringat hal lucu lainnya, yaitu surel. Ya, surel adalah nama Indonesia untuk e-mail yang berarti surat elektronik. Singkatan yang lumayan aneh. Lalu e-commerce juga diartikan perdagangan elektronik. Saya mencoba awam dan mendenotasikan bahwa perdagangan elektronik hanyalah jual-beli produk-produk elektronik.

Oke,
1. Elektronik dalam artian bahasa Inggris sangat luas maknanya. Bisa berarti merupakan suatu sistem terstruktur yang terkomputerisasi dalam jaringan internet.

2. Indonesia sejauh ini cukup konsisten dalam penerjemahan, yaitu mengubah MD (menerangkan-diterangkan) khas Inggris menjadi DM. Ex: electronic mail menjadi surat elektronik.

3. Hingga dimunculkan ide e-KTP. (???)

--> Jadi, apakah e-KTP itu adalah gabungan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia?

--> Lalu posisi unsur frase masih pake MD karena "e-" masih di depan, jadi e-KTP belum memenuhi syarat ciri-ciri bahasa Indonesia.

--> Pertanyaan terakhir, jadi cara penulisan e-KTP ini biasa atau harus ditulis miring layaknya bahasa asing (e-KTP) ? Mungkin sebelum ada jawabannya, setengah-setengah aja ya? "e" -nya miring, tapi "KTP" nya biasa (e-KTP).


Nah! Saya punya usulan! :D
Biar Indonesia banget, gimana kalo namanya KTP elektronik dan disingkat KATAPEL.
Gimana Pak Gamawan? Mantep kan?
Selain itu mungkin juga menimbulkan efek samping kebanggaan tersendiri memliki Katapel Indonesia.
Bahkan, mungkin juga menambah rasa cinta tanah air dan perasaan bela negara yang membuncah di dada karena kita semua memiliki KATAPEL.

:D

Senin, 07 November 2011

Idul Adha: Tenggang Rasa atau Renggang Rasa?



Sebuah repost dari 27 November 2009:




Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Laailahaillalaahu Allahu Akbar..
Allahu Akbar walillahilham..
(takbir, hehe)

Ungkapan syukur umat muslim atas datangnya Hari Raya Idul Adha. Bersyukur karena di (setidaknya satu) hari ini kita diingatkan untuk berintropeksi dan kembali mengingat. Dewasa ini kita sudah dimanjakan oleh fasilitas-fasilitas keduniawian. Komunikasi, transportasi, transaksi begitu diagungkan belakangan ini. Nah, dengan Idul Adha ini saat tepat untuk kembali mengingat untuk berbagi. Berbagi apapun.

Ditinjau dari sejarahnya, Idul Adha sarat dengan pelajaran-pelajaran berbagi yang dapat kita ambil dari Sang Tokoh Utama, yaitu Nabi Ibrahim AS. Berbagi keikhlasan, berbagi keyakinan hati, ketika diperintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail AS. Totalitas dalam melaksanakan perintah, ketika beliau diperintah untuk meninggikan pondasi Ka’bah, sebetulnya cukup bagi beliau untuk menyusun batu hingga setinggi yang bisa dijangkau oleh tangannya. Namun beliau tidak puas akan hal itu dan terus menumpuk hingga lebih tinggi lagi. Itu semua dilakukan karena kecintaannya pada perintah-perintah Allah.

Hingga berbagi dalam arti sebenarnya (baca : amal). Tidak cukup dengan hanya sekedar amal (menyisihkan sejumlah harta, sudah), namun juga harus dihiasi dengan ikhlas dan ditunaikan dengan sepenuh hati. Diriwayatkan suatu hari Rasulullah SAW menjumpai Fatimah, putrinya sedang menggosok dirham (perak). Nabi bertanya: “Untuk apa engkau menggosok dirham?”

Kemudian Fatimah menjawab, “Aku berniat menyedekahkannya.”

“Kalau akan diberikan orang lain, mengapa engkau gosok (membersihkan/memperbagus) dulu?” tanya Rasulullah.

“Karena aku tahu bahwa dirham ini akan sampai di tangan Allah sebelum berpindah ke tangan orang yang membutuhkan.”


Well, itu hanya sepenggal dari khotbah sholat Idul Adha di jalanan dekat kos saya pagi ini. Oiya, refleksi berbagi juga dijumpai pada pelaksanaan sholat ied yang diselenggarakan (sebagian besar) di lapangan-lapangan atau setidaknya di lokasi yang dinilai cukup lapang untuk mengumpulkan semua elemen masyarakat muslim di satu tempat (karena tadi saya sholat di tengah jalan raya, hehe). Sholat di lapangan (mungkin) dimaksudkan untuk mengakomodasi semua muslim untuk merayakan hari raya bersama-sama. Bukan rahasia jika setiap sholat ied akan selalu memecahkan rekor jumlah jamaah. Makna lainnya, dengan sholat di lapangan kita bisa memupuk kebersamaan, silaturahmi (atau silaturahim? Hehe), tenggang rasa, berbagi tempat, bersama-sama di pagi yang sangat dingin. Kapan lagi coba? Indahnya Idul Adha. Hahaha

Namun, saya merasakan kerenggangan dalam kebersamaan itu. Sepele, tapi merepresentasikan “ya, seperti inilah Indonesia.” Kita datang berbondong-bondong, baju koko, kopiah, rukuh, sajadah, ada yang bawa beberapa lembar koran juga. Tiba, mengambil tempat, memasang sajadah, duduk dengan nyaman, bertakbir. Ketika sholat akan dilaksanakan…….apa-apa’an ini???? Kita semua hanya terpaku pada tempat awal kita. Terpaku pada sajadah kita, bahkan ketika mengetahui saf depan kita kosong. Apalagi tak jarang yang sajadahnya lebar. Ini saf terlonggar yang pernah saya temui!!!! Bahkan, kita lupa pesan standar imam ketika akan memulai sholat, “Rapatkan safnya, yang depan dipenuhi dulu!” hahaha, kita terlalu nyaman dengan posisi kita!

Yup! Seperti inilah Indonesia. Kita masih terlalu egois untuk meninggalkan sesuatu yang kita “bangun” untuk dinikmati orang lain. Kita masih terlalu nyaman dengan kondisi dan enggan untuk “maju” demi mencari sesuatu yang lebih baik. C’mon guys! Lets move forward!

NB: tadi saya pake sajadah kecil kok.. :p

Sabtu, 05 November 2011

Dokter dan Dosen Pembimbing

Sering denger pasien terlantar karena dokternya sedang sibuk, kan? Pasien mengantri giliran periksa sambil menahan sakit, dokternya belum datang. Ketika ditanyakan ke susternya, selalu jawaban tidak pasti. Mau gimana lagi? Dokter punya nilai tawar di sini. Pasien mau sembuh ga? Ya sudah, harus sabar. Sementara dokter (mungkin) masih baru bangun tidur. Dokter tidak merasakan sakit. Kalau sudah begini yang tersisa hanya mengharap belas kasihan dokter untuk lebih memikirkan pasiennya. Eh, atau (mungkin) itu sudah menjadi keharusan dalam kode etik seorang dokter? Profesionalitas? Sebagai seorang pengabdi? Atau posisi penting yang digantungkan banyak pihak sehingga menciptakan kuasa?

Dosen pembimbing juga begitu.

Minggu, 16 Oktober 2011

Menghilang

Beberapa minggu terakhir ini saya menempuh beratus-ratus kilometer. Mungkin seribu lebih. Menyita waktu dan tentu saja menguras tenaga. Sangat. Untuk apa? Saya juga tidak begitu paham. Lah? Lalu kenapa saya melakukannya?

Tomblok selalu bilang, "kamu harus memilih" tapi keadaan memaksa saya kehilangan hak untuk memilih.

Saya sangat mencintai Indonesia. Benar-benar cinta, hingga saya selalu nelangsa dengan keadaan negara ini. Selalu. Nelangsa karena tidak bisa ikut serta dalam upaya perbaikannya. Kita bicara makro. Tentu saya melakukan hal-hal kecil yang merepresentasikan rasa cinta saya. Tapi di atas? Bisa apa kita? Mengeluh?

Saya sakit atas sesuatu yang bukan saya sebabkan. Dipaksa menerima. Seperti kutukan.

Nah kini saya berada di "Indonesia" tetapi di lingkup yg lebih kecil.




Setiap awal perjalanan saya hanya bisa berdoa, "Ya Allah dengan AsmaMu saya berangkat, dengan AsmaMu saya selamat, dengan AsmaMu perjalanan ini bermanfaat."

Kamis, 29 September 2011

SNSD PMA!

Apa ya yang dilakukan para personil SNSD sehari-hari?

Bangun tidur, mereka pasti tidur teratur dan bangun pagi. Lihat, mereka tidak memiliki kantung mata sama sekali.

Pasti mereka banyak minum air putih, betapa segarnya mereka.

Lalu mereka akan stretching ringan, menjaga kebugaran.

Setelah itu sarapan sandwich, mungkin.

Agak siang mereka akan ke salon melakukan perawatan tubuh.

Abis dari salon mereka akan melatih vokal. Perhatikan mereka selalu bermain live di setiap pertunjukan panggungnya dengan suara yang sangat prima.

Kemudian mereka berlatih koreografi. Bayangkan betapa giatnya mereka berlatih sehingga bisa melakukan gerakan yang begitu sempurna. Aktif, energik, lucu, dan yang paling penting, gak bitchy.

Dan pasti mereka semua rajin mengikuti kajian psikologis. Mereka pasti memiliki positive mental attitude, man! Lihat, mereka selalu tersenyum! Sialnya senyumnya selalu berhasil membuat kita tersenyum juga :)) PMA, man! PMA!

Dengan jadwal sepadat itu pasti ada batasnya mereka cape. Belum lagi siklus bulanan cewek. Tapi mereka ga pernah bete. Wajah mereka selalu senyum bersinar segar. Bagaimana caranya memanage 9 cewek biar terus bahagia? Bagaimana kalo salah satu bete. Pasti akan berpengaruh ke yang lainnya. Belum lagi kalo ada perselisihan. Tapi mereka ga pernah bete, guys! Bahkan mereka berhasil meredakan bete kita setelah menonton videonya, hehehe.

SNSD PMA, man! Yeah! XD

Rabu, 28 September 2011

25 September

Selamat ulang tahun Keigo Mikami!

Selamat ulang tahun Ponaryo Astaman!

Selamat ulang tahun Angelo Palombo!

Selamat ulang tahun Karl-Heinz Rummenigge!

Kamis, 22 September 2011

Teenage Anarchist

Hilmi tau saya sedang mempelajarai anarkis dan dia memberi saya video Against Me! - I Was A Teenage Anarchist






I was a teenage anarchist, looking for a revolution
I had a style, I had the ambition
Read all the authors, I knew the right slogans
There was no war but the class war
I was ready to set the world on fire
I was a teenage anarchist, looking for a revolution

Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire
Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire

I was a teenage anarchist, but the politics were too convenient
In the depths of their humanity, all I saw was bloodless ideology
With freedom as their doctrine, guess who was the new authority
I was a teenage anarchist, but the politics were too convenient

Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire
Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire

I was a teenage anarchist, but then the scene got too rigid
It was mob mentality, they set their rifle sights on me
Narrow visions of autonomy, you want me to surrender my identity
I was a teenage anarchist, the revolution was a lie

Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire
Do you remember when you were young and you wanted to set the world on fire
When you were young and you wanted to set the world on fire
When you were young and you wanted to set the world on fire

I was a teenage anarchist
I was a teenage anarchist
I was a teenage anarchist
I was a teenage anarchist

No, I am a teenage anarchist.

Rabu, 21 September 2011

Bekas Propinsi ke-27




Ini adalah prolog dari salah satu film terhebat yang pernah saya tonton, Barefoot Dream. Film tentang impian anak-anak Timor Leste yang dilatih oleh mantan pemain sepakbola Korea yang mencari "kehidupan" di perantauan.

Terlepas dari isi filmnya, saya sangat tergugah dengan prolog film ini. Prolog yang mendeskripsikan bagaimana keadaan Timor Leste di mata dunia. Prolog singkat yang mungkin bagi sebagian kami, orang Indonesia, adalah penjelasan panjang atas apa yang sebenarnya terjadi di bekas propinsi ke-27 itu.

Apa yang kita ketahui tentang Timor Timur? Propinsi termuda, namun juga yang paling awal memisahkan diri dari Indonesia. Kita hanya menyesalkan kenapa mereka memilih merdeka. Tanpa kita pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini adalah produksi Korea dan apa yang disampaikannya merupakan obyektivitas internasional. Bahwa memang pernah terjadi pembantaian besar-besaran di sana.

Apa kalian tahu? Pemerintah dengan rapihnya menyimpan informasi-informasi kebenaran (kalau tidak bisa saya bilang KEKEJIAN atau KEBIADABAN) dari media. Ya, kita dipacung informasi.

Kalaupun tahu, kita hanya bisa diam.

Baik, itu adalah satu contoh. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Terutama di daerah-daerah yang sering terjadi konflik. Papua? Maluku? Aceh? Apa yang sebenarnya terjadi di sana sampai ada gerakan-gerakan separatis?

Logika simpel saja, seseorang (atau kelompok) akan memilih meninggalkan daerahnya ketika mereka sudah merasa tidak nyaman. Lalu apa yang membuat ketidaknyamanan itu? Bukankah "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia"???

Kamis, 08 September 2011

Saya Punya Negara, Kalian Tidak

Masih dipicu oleh #Munir. Masih tentang bobroknya negeri ini.


*mengumpat*


Apa kalian sama marahnya dengan saya?

Apa kalian merasa apa yang saya rasa?

Merasa ditipu, merasa tak dianggap, merasa dicurangi, merasa dikebiri, merasa dibungkam?


Kenapa kalian masih tak peduli?

Kenapa ini bukan hal yang penting?


Sampai kapan kalian menutup mata?

Sampai kapan kalian merasa baik-baik saja?


Kalian tidak tahu apa memang bodoh?


Lalu apa yang kalian perjuangkan?

Lalu apa yang kalian bela?


Karena kalian tidak merasa memiliki negara ini?

Kalau begitu, apa yang kalian miliki?

Kalau begitu apa yang kalian perjuangkan? Apa yang kalian bela?

Apa yang membuat kalian prihatin?

Apa yang membuat kalian risau?

Uang? Pasangan?

Maka kalian akan baik-baik saja.

SAYA TIDAK.


Ini negara siapa?

INI NEGARA SAYA! SAYA MARAH DENGAN SEMUA KEBOHONGAN INI.