Saya mendengar adzan dhuhur. Biasanya saya cuma mematikan musik sebentar kemudian ketika adzan berhenti saya mainkan lagi. Selama ini sih saya sholat asal aja, pokoknya masih jamnya ya masih boleh, bahkan lebih sering nelat-nelat.
Tapi selama mendengarkan adzan itu saya keinget bahwa keutamaan sholat adalah dilakukan tepat waktu, tidak ditunda-tunda. Maka saat itu juga saya coba untuk melaksanakan sholat setelah adzan.
Sambil menunggu adzan saya iseng ngetwit dan dengan maksud mengajak sholat tepat waktu, terbersit begitu saja kata “Sol Sepatu” kemudian saya paksakan membuat kepanjangan dan jadilah “sholatlah setepat waktu” hehehehe.
Untuk hari itu sol sepatu sangat efektif untuk “memaksa” saya sholat tepat waktu pada dhuhur, ashar, dan maghrib. Tapi Isya-nya saya lupa lagi :p
Oke, untuk langkah awal sepertinya ini bisa bekerja untuk mendorong agar sholat tepat waktu terus. Setidaknya untuk saya dulu, tapi sambil saya twit terus biar bisa mengajak temen-temen yang lain.
Let’s go Sol Sepatu! :
Rabu, 08 Juni 2011
Toko Kerja Perbankan Syariah

Ayah saya kebetulan menjadi panitia Workshop Perbankan Syariah di Pasuruan. Kebetulan lagi, skripsi saya juga tentang perbankan syariah. Karena kebetulan-kebetulan itu, saya diajak untuk menjadi peserta, yang tentu saja tak diundang. Entah, tapi mungkin ini adalah pertama kali saya berada dalam posisi pelaku nepotisme. Tapi untuk menepis rasa bersalahnya, saya menganggap ini adalah peluang untuk menambah ilmu. Toh, saya juga tidak melanggar aturan. Toh, di spanduk acaranya juga ada tulisan “…untuk stakeholder perbankan syariah.” Nah, saya sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari perbankan syariah juga merupakan stakeholder kan?
Oke, acara ini bertajuk “Workshop Perbankan Syariah Untuk Ulama”. Sasarannya jelas, ulama. Jadi ini semacam akselerasi sosialisasi untuk meningkatkan nasabah perbankan syariah. Sama-sama kita tahu, budaya di pesantren di mana para santrinya sangat patuh pada kyai-nya, maka mengedukasi kyai-kyai tentang pentingnya perbankan syariah merupakan langkah yang sangat tepat.
Undangan disebar ke pesantren-pesantren se-Pasuruan dan sekitarnya. Sudah jelas pula bagaimana wardrobe para ulama dan kyai peserta workshop: peci, baju koko, sarung, dan sandal. Kebanyakan dari mereka berjenggot. Mereka saling bersalaman, yang muda mencium tangan yang tua. Dan perbincangan di antara mereka sarat dengan istilah-istilah arab.
Acara yang berlangsung dua hari (1 Juni-2 Juni) ini dibuka oleh Bapak Mulya Siregar, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Pada sesi pertama yang berlaku sebagai pembicara dalah Pak Buchori dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia Bagian Pengembangan. Beliau memperkenalkan perbankan syariah pada para ulama. Yaitu seputar kebijakan pengembangan perbankan syariah yang berisi tentang potensi hingga rencana pengembangan yang meliputi service, infrastruktur, dll.
Setelah pemaparan dipersilakan para peserta (ulama) untuk mengajukan pertanyaan. Dari beberapa yang diajukan tampak para ulama masih belum paham akan posisi bank syariah sebagai bank Islam. Mereka kebanyakan masih menanyakan tentang layanan, kemudahan, dan juga akses. Selain itu, ternyata ada beberapa yang masih beropini bahwa bank syariah tidak menguntungkan jika dibandingkan dengan bank konvensional. Ada juga yang menyangsikan kesyariahan bank syariah.
Pembicara sesi kedua adalah Pak Arie Mooduto, seorang pakar ekonomi Islam. Dalam paparannya beliau menegaskan pentingnya bank syariah dilihat dari fungsi sebagai bank Islam. Bagi umat Muslim yang penting syariah, tidak peduli bagaimana servicenya. Toh, service dari bank syariah akan terus diperbaiki. Untuk lebih meyakinkan audience, Pak Arie mengajak untuk melihat dari sudut pandang ekonomi Islam yang adil, dan oleh dunia barat mulai disebut-sebut sebagai solusi perekonomian dunia.
Tak lupa beliau menyinggung senjata utama bank syariah dalam melawan bank konvensional, yaitu riba. Sudah menjadi isu lama bahwa bunga bank (konvensional) termasuk riba yang berarti haram. Riba (bunga) menjadi pondasi system ekonomi konvensional. Kapitalisme membuatnya menjadi semakin rakus. Nah, ekonomi Islam adalah solusi untuk melawan kerakusan itu. Namun, umat Islam masa kini sudah tidak lagi mempedulikan itu. Sekuler?
Pak Arie Mooduto juga memberikan cerita tentang pentingnya menegur dan mengingatkan kebenaran. Oleh karena itu, para peserta workshop yang para ulama itu yang notabene adalah pemegang teguh syariat Islam diharapkan mau peduli dan menyebarkan tentang perbankan syariah ini.
Hari kedua, materi diberikan oleh Pak Cecep. Dalam pembahasan kali ini, Pak Cecep lebih menekankan pada soal teknis dan produk-produk perbankan syariah. Relatif mudah tentunya mengajarkan produk-produk yang berbahasa Arab itu pada oara ulama. Setelah itu untuk lebih mendalami dalam prakteknya, beliau memberikan semacam studi kasus untuk dianalisis.
Well, untuk hari kedua saya tidak melanjutkan hingga selesai karena suatu alasan harus kembali ke Malang.
Secara keseluruhan saya mencermati penataan paparan yang disampaikan telah disusun dengan baik. Sebagai pemanasan (sesi pertama) adalah pengenalan perbankan syariah secara sekilas dan dengan respon banyak sangkalan. Nah, intinya ada pada sesi kedua ini, yaitu pemupukan pondasi betapa bagusnya ekonomi Islam sebagai solusi perekonomian dunia. Di sini peserta dibuat memahami untuk tidak lagi mementingkan untung-rugi, yang penting amanah dan sesuai syariat Islam. Bank Syariah adalah salah satu produk dari ekonomi Islam tersebut, jadi bagaimanapun untuk urusan bank sebisa mungkin kita memilih bank syariah. Penyampaian yang enak, pendekatan yang bagus pada para ulama membuat Pak Arie Mooduto dapat memiliki hati peserta. Sehingga Pak Cecep apada sesi pengenalan produk bank syariah tidak kesulitan menjelaskan karena pondasi tersebut sudah terbentuk.
Yahh, semoga workshop ini akan berhasil dengan semakin banyaknya nasabah bank syariah di Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya. Semoga para ulama mendapat pemahaman tentang bank syariah ini dan menularkan pada santri-santrinya untuk menjadi nasabah bank syariah.
Karena memang ekonomi Islamlah yang dapat menyelamatkan kerakusan kapitalisme dunia ini. Karena memang bank syariah merupakan bank yang bersih jauh dari riba dan memihak pada usaha kecil. Karena memang bank syariah memiliki potensi yang luar biasa di Indonesia ini.
Rabu, 01 Juni 2011
Rokok Pembangunan

Saya ingin menuliskan apa yang saya twit kemarin sehubungan dengan hari tanpa tembakau sedunia yang jatuh kemarin.
Mengingat hari tanpa tembakau sedunia, ada joke yang beredar di masyarakat Kediri tentang merokok. Ketika kita meminta seseorang untuk berhenti merokok, mereka akan menjawab, "Kalau gak ada ini (rokok), Kediri gak bisa maju." Rokok yang dimaksud tentu saja adalah rokok produk dari Gudang Garam. Seperti yang kita ketahui, Gudang Garam adalah salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang berpusat di Kediri.
Dari jawaban itu bisa kita simpulkan bahwa masyarakat Kediri beranggapan bahwa pembangunan Kota Kediri sangat bergantung pada pabrik Gudang Garam itu.
Kemudian salah satu teman saya me-reply twit saya, "Kalo gak ada ini (rokok) eyke makan opo bok?" Nah lo! Tambah lagi ketergantungan masyarakat Kediri kepada Gudang Garam: lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu, masyarakat Kediri seperti memiliki tanggung jawab tidak langsung untuk terus melestarikan (mengkonsumsi) produk Gudang Garam. Hehehe.
Entah itu hanya alasan atau pembenaran masyarakat Kediri untuk tetap merokok, tapi lelucon ini sangat menggelikan. Karena di sini kita mengesampingkan peran Pemerintah Kota Kediri dalam pembangunan Kota Kediri, hanya bergantung pada Gudang Garam.
Ehm, ngomong-ngomong tentang pembangunan oleh pabrik rokok, ternyata hal ini juga berlaku di tingkat negara. Setelah membaca opini di Jawa Pos kemarin, ternyata cukai perusahaan rokok se-Indonesia yang mencapai 44 triliun rupiah merupakan sumber pendapatan negara dalam APBN!!! Dan kabarnya sekitar 1 triliun dikucurkan ke pemda yang memiliki pabrik rokok. Itulah alasan mengapa pemda masih menghamba pada pabrik rokok.
Bukankah itu wajar? Di sini letak ketidaktahuan kita. Seharusnya 70% dari cukai tersebut digunakan untuk usaha-usaha pengurangan rokok, seperti kampanye anti rokok, asuransi kesehatan, penyuluhan dan lain-lain. Namun yang terjadi Indonesia adalah sebaliknya, bukannya berusaha mengurangi rokok, tapi seakan-akan malah menggenjot jumlah produksi rokok. Hal ini dapat diketahui dari jumlah produksi rokok yang semakin meningkat tiap tahunnya.
Selain itu, perusahaan rokok juga diberi panggung di Indonesia. Panggung untuk menjadi sponsir di event-event berskala nasional. Mulai dari event musik sampai event olahraga.
Apa usaha pemerintah? Berapa tempat bebas asap rokok di Indonesia ini???
Apakah kita sudah kembali ke jaman buta aksara karena tidak bisa membaca ancaman kesehatan pada bungkus rokok?
Apa karena ulama kita menjadi "sekuler" terhadap rokok?
Ahh, sudahlah, setidaknya hormati kami yang tidak merokok, seperti kami menghormati Anda yang merokok :)
Selasa, 24 Mei 2011
Kemacetan, Mahasiswa, dan Ajang Bisnis Kampus
Kemacetan. Hanyalah salah satu isu yang mulai dimaklumi di negeri ini. Di tengah terpaan segala hal buruk tentang kenegaraan, kemacetan bukan lagi menjadi hal penting untuk diperhatikan. Kemacetan menjadi rutinitas “pemanasan” di pagi hari.Data 2010 menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 70.714.568 kendaraan. Dengan jumlah sekitar sepertiga jumlah penduduk di Indonesia ini, masalah ini bukan lagi menjadi masalah Kementrian Perhubungan saja, namun sudah menjadi masalah sosial.
Di mana akar permasalahannya? Kendaraan pribadi. Seperti yang kita ketahui, saat ini akses kepemilikan kendaraan pribadi sangatlah mudah. Maraknya perusahaan-perusahaan finance yang menawarkan kredit memudahkan masyarakat untuk membeli kendaraan bermotor. Bahkan menyasar pada golongan masyarakat yang “belum terlalu membutuhkan kendaraan bermotor” dengan senjata kredit selama bertahun-tahun.
Angkutan umum. Bukan rahasia lagi kalau angkutan umum di Indonesia ini kurang diperhatikan pemerintah. Baik pusat ataupun daerah. Sudah jelas di mata kita kalau angkutan umum di Indonesia ini kurang nyaman. Dengan dalih itu saja, cukup bagi masyarakat untuk lebih memilih kendaraan pribadi.
Satu lagi, sayang sekali, karena kendaraan pribadi sudah menjadi identitas di negeri ini. Masuk SMP, sepeda motor baru. Masuk SMA, motor sport baru. Masuh kuliah, mobil baru. Fenomena yang menggeser nilai guna kendaraan pribadi. Penekanan tidak lagi pada “kendaraan”-nya, namun pada “pribadi”-nya.
Lalu siapa yang akan peduli?
Pemerintah, terlebih pemerintah daerah tentu harus peduli dengan kenyataan ini. Kemacetan banyak berdampak buruk pada lingkungan. Konsentrasi karbon pada satu tempat tentu tidak baik bagi kesehatan pengendara. Apalagi dengan kurangnya tumbuhan hijau di sisi-sisi jalan, karbon-karbon itu terlalu banyak untuk di-fotosintesis.
Belum lagi masalah psikologi pengendara. Stress karena macet di pagi hari sedikit banyak berdampak pada mood dan produktivitas di tempat kerja.
Pihak kepolisian? Pihak kepolisian tidak dapat berbuat apa-apa untuk menekan laju pertumbuhan kendaraan bermotor. Asal kepemilikannya sah (karena mudah untuk sah), maka kendaraan bermotor layak dikendarai di jalanan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah seperti memberlakukan program 3 in 1 di Jakarta. Dan apa hasilnya? Hanya menambah “peluang kerja” ilegal.
Selanjutnya saya memilih mahasiswa. Kenapa mahasiswa? Ayolah, karena mereka menyandang predikat “agent of change”. Karena mereka adalah fase dari masyarakat yang dikenal “sadar”. Selain itu juga lembaga yang menaunginya, kampus. Karena kampus merupakan tempat berkumpulnya para intelektual yang revolusioner.
Untuk mahasiswa dan kampus yang berhadapan dengan fenomena ini seharusnya melakukan sesuatu untuk merubahnya. Mungkin ada organisasi mahasiswa yang menyuarakan propaganda kurangi kemacetan dengan berangkat ke kampus menggunakan angkutan umum. Atau komunitas pesepeda di kampus yang berteriak untuk mengurangi polusi udara dengan program “bike to campus”. Bisa juga kampus menghimbau masyarakatnya untuk mengurangi kemacetan. Bahkan kampus juga bisa mengeluarkan peraturan-peraturan yang bertujuan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor ke kampus.
Idealnya, pemerintah daerah bekerja sama dengan kampus dengan suatu kesepakatan bahwa pemerintah daerah akan memperbaiki system angkutan umum dan juga kampus mengeluarkan peraturan yang membatasi mahasiswa untuk menggunakan kendaraan bermotor.
Namun, bagaimana kenyataannya? Saya berbicara tentang Universitas Brawijaya, mungkin yang juga telah diaplikasikan di sebagian besar universitas di Indonesia. Mengetahui jumlah kendaraan yang semakin menjamur di kampus, pihak kampus menerapkan parkir berlangganan bagi setiap kendaraan mahasiswa. Parkir berlangganan ini berupa sticker yang ditempelkan pada kendaraan dan hanya berlaku satu semester.
Selain itu, kampus juga menyadari potensi jalan kampus yang membelah dan bisa menjadi jalan pintas, sehingga pihak kampus menerapkan “tarif tol” bagi setiap kendaraan yang melintas, yang tidak memiliki sticker parkir berlangganan.
Wow! Produk intelektualnya adalah merubah menjamurnya jumlah kendaraan bermotor menjadi peluang bisnis. Mungkin ini adalah salah satu program dari otonomi kampus. Masa bodoh kemacetan, peduli setan polusi, yang penting kita pintar membaca peluang dan menghasilkan uang. Kapitalis!
Ojek Sepeda: Salah Satu yang Masih Bertahan

“Saya sudah di sini sejak tahun ’78, dulu banyak yang ngojek di sini, sekarang tinggal dua,” kata bapak ojek sepeda yang saya sambangi. Tempat mangkalnya adalah di depan menara BNI, salah satu gedung tertinggi di Jakarta (bahkan mungkin Indonesia). Tepat di bawah halte busway dukuh atas satu, tepat di seberang patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman, Jakarta.
Bapak yang berasal dari Purwokerto ini mengeluhkan jumlah kendaraan bermotor yang semakin tidak masuk akal. Dulu beliau biasa mengantar penumpang sampai ke Tanjung Priok. “Sekarang penumpangnya pada kagak berani,” sembari tertawa. “Sekarang sih mungkin cuma nganter deket-deket aja, ke dalem.”
Bapak 72 tahun ini sangat mengidolakan Soekarno. Dengan bangganya beliau bercerita tentang keberanian dan ketegasan Soekarno. Beliau juga menekankan tentang etos kerja jaman dahulu dibandingkan dengan sekarang. “Dulu sama Pak Karno kita semua harus sekolah, semua harus kerja! Gak kaya’ sekarang masih muda, bajunya bagus-bagus malah pada ngamen. Masih sehat aja udah pada ngemis!”
Beliau juga mengomentari tentang lembeknya pemerintahan saat ini. Beliau menganalogikan dengan pemerintahan “tangan besi” Soekarno. “Sekarang penjahat pada bebas, kalo dulu, jangankan koruptor, maling aja langsung di-dor! Sekarang? Berani apa SBY?”
Saking kagumnya terhadap Soekarno, beliau menjawab, “Saya pilih Megawati, kemaren,” saat saya bertanya, “Tapi bapak pilih SBY juga kan, kemaren?” “Megawati itu mikirin rakyat kecil. SBY mana? Malah mau ganti minyak pake gas. Itukan mahal, kasian rakyat kecil.” Bahkan beliau juga akan memilih Puan Maharani, putri dari Megawati jika nanti dicalonkan jadi presiden. Lihat betapa suksesnya positioning Megawati di mata “wong cilik”.
Satu lagi, sentralisasi ternyata tidak berpengaruh pada semua elemen masyarakat Jakarta. Bapak yang dulunya pernah menjadi penjaga malam di Priok ini masih sangatlah kolot. Beliau masih bercita-cita pergi ke Jombang untuk menemui Ponari. “Saya dengar kabarnya katanya manjur,” kata beliau yang ingin mengobati daya pendengarannya yang telah menurun. “Saya sudah nyimpen address-nya yang saya dapat di sobekan Koran.”
Ada satu hal mengganjal yang akhirnya saya tanyakan, “Pak, sekarang kan hampir tiap hari hujan, trus gimana dong kalo hujan? Pulang atau berteduh di sini? Jadi tambah jarang narik dong?” Dengan tegar beliau menjawab, “Kalau hujan saya jadi ojek payung.” Wow. Saya melihat usaha yang tak putus dari beliau. Tidak menyerah pada alam, bahkan dengan cerdiknya mengubahnya menjadi lahan penghasilan alternative. “Seikhlasnya aja, ada yang dua rebu, kadang juga lima rebu, tapi pernah juga saya tiga kali dikasih lima puluh rebu, mungkin karena kasian ya liat bapak-bapak tua ngojek payung.”
Mungkin ngobrol-ngobrol saya itu hanya sedikit dari cerita bapak ojek sepeda yang terlihat tabah tanpa keluh tersebut. Ya pak, kita memang harus terus berusaha dan tidak menjadi bangsa pengemis, seperti kata Bung Karno :D
Langganan:
Postingan (Atom)